Kamis, 24 November 2011

RENUNGAN PERJALANAN

Paijo duduk termenung dalam sudut rumah kontrakannya, sambil nyruput rokok filternya yang tinggal separo. Paijo termenung atas duka dan musibah yang telah dialaminya, tak terasa 2 tahun lamanya masalah dan musibah itu sudah terjadi dan tak kunjung usai . Paijo menerawang ke masa silam, ke masa-masa penuh keindahan. Masa dimana paijo bisa melakukan apa saja, bersama kekasih dan sahabat-sahabtnya.Ketika membayangkan wajah orang tuanya, paijo tak kuasa menahan tangis,lelaki tegar dan kuat itu, terpekur dalam butiran air mata yang sangat deras mengalir di pipinya. Sambil menatap foto wajah orang tuanya di dinding tembok yang kusam itu, Paijo bergumam lirih “ maafkan aku Bapak,..Ibu,..”

Sambil menyeka air matanya yang masih menetes di pipinya, paijo merenungkan kehidupan yang sudah dijalaninya. Paijo merasa dirinya tak berarti. Sudah dua tahun lamanya, kekasih Paijo menyingkir dari kehidupan Paijo, setelah mengalami kebangkrutan dan penipuan itu..Kebangkrutan dalam bisnis, kebangkrutan dalam tata kelola keuangan yang buruk.Paijo merenung, tak seharusnya kekasihnya Ngatinah menyingkir sedemikian rupa.Karena bagaimanapun apapun yang terjadi adalah keputusan Allah.Kata orang tua jaman dulu, kekasih harus hidup bersama baik dalam suka maupun duka, dan harus berusaha menutupi kekurangan masing-masing. Memikirkan hal ini, dada paijo semakin sesak.Paijo benar-benar mengalami kesendirian.Sudah setahun lamanya paijo sendiri dalam ruang kontrakannya yang sesak dan kusam itu ditemani oleh suara cicak yang selalu bersenandung tepat jam 1 malam.

Tanpa sadar paijo sudah lama duduk terpekur dalam sudut rumah kontrakannya itu lebih dari 1 jam,sambil bersandar di tembok, paijo samar-samar mendengarkan petuah dari Pak Syukri yang kembali terngiang dalam telinganya.”Apapun yang terjadi padamu Jo, syukurilah,itu bentuk Allah sayang padamu, Allah berusaha menyapamu lewat musibah dan masalah yang kau alami.” “Tanpa masalah itu, tanpa musibah itu, kau pasti akan selalu melupakan Allah.” Kata-kata dari Pak Syukri itu ibarat palu godam buat paijo.

Paijo sadar, bahwa kalau dipikir apa yang dialami ini adalah bentuk keadilan Allah, dan bentuk rasa sayang Allah. Paijo merenung, bahwa selama puluhan tahun hidup di dunia, Paijo selalu dalam kesenangan, apapun yang paijo inginkan selalu berhasil diraihnya. Dalam masalah harta Paijo bener-benar tidak kekurangan.Orang tua paijo adalah orang yang berkecukupan, sehingga paijo selalu mendapatkan apa yang diinginkannya. “Sehingga ketika kebangkrutan ini terjadi, ketika musibah itu terjadi tak seharusnya aku menyalahkan keadaan, gumam paijo” Apa arti kebangkrutan ini, ketertpurukan ini, musibah ini, dengan puluhan tahun aku hidup dalam kesenangan.Aku harus bangkit, aku harus tidak kalah dengan masalah ini,”Aku harus BANGKIT!..Tapi bagaimana caranya aku bangkit??? Masalah itu sedemikian kompleks, aku harus memulai darimana???.Ketika paijo baru berbicara dengan halusinasinya, tiba-tiba telpnnya berdering,paijo melihat dengan seksama nama yang tertera di layar handphonenya,..ah sms dari Partoyo. Di sms tersebut Partoyo mengabarkan bahwa dia sudah didepan rumah kontrakannya. Paijo dengan setengah malas beranjak dari dudknya dan melangkag dengan gontai menuju depan rmah dimana Partoyo berada. Membayangkan Partoyo, Paijo merasa bersyukur punya temen seperti dia. Yah, Partoyo adalah sosok yang selalu berpikir positif, meski dengan berat bdan yang ekstra sehingga menimbulkan kesan lamban dalam berperilaku, Partoyo selalu jadi tumbal ejeken temen2, Partoyo selalu tersenyum atas ejekan itu.Dengan cirikhas selalu memakai jaket, Partoyo adalah orang yang menurutku percaya dirinya terlalu berlebihan, namun bagiku itulah kekuatan dirinya.
“Piye bos, sapaku padanya”, setelah aku sampai didepan warung kucingan didepan rumah kontrakkanku. Sambil mengunyah sate didepannya, dia berkata “ Nggak bos, mau nganter proposal yang buat acara besok”. Ooo dah jadi to bos, kataku.” Jadi to yaaa!!” sambil dia menceritakan planning rencananya besok. Perlu diketahui, Paijo dan Partoyo sama-sama bergabung dalam Komunitas Branjang Kawutan (KBK), Komunitas yang mewadai anak-anak muda berjiwa sosial. Kebtulan KBK akan mengadakan acara peduli sosial pada saat ramadhan tiba.
Yah meski Paijo sedang mengalami masalah yang pelik, Paijo tetap total demi Komunitasnya. Paijo merasa, bahwa apa yang terjadi pada dirinya biarlah dirinya sendiri yang tahu. Paijo tidak ingin menyusahkan temen-temennya. Paijo merasa biarlah, apapun yang terjadi biarlah aku sendiri yang akan menanggung akibatnya. Inilah ciri dari seorang laki-laki, yang harus bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya.Karena bagi paijo, setiap apapun pasti ada resikonya. Tidak ada sebuah perilaku yang tanpa resiko.Bahkan yang dianggap aman sekalipun.Karena ini sudah hukum alam. Biarlah waktu yang akan membuktikan, begitu kata paijo kepada dirinya sendiri.
Tak terasa Paijo dan Partoyo sudah 1 jam berdiskusi mengenai langkah dan rencana kegiatan yang akan dilakukan KBK. Partoyo pun pamit untuk kembali ke habitatynya, dan Paijopun kembali melangkah gontai menuju sudut pembaringan kamar rumah kontrakannya dengan sejuta pikiran atas apa yang terjadi pada besok pagi

Setelah sampai pada pembaringan kamar rumah kontrakannya, paijo langsung terlelap tidur.Wajah paijo menampakkan guratan kesedihan yang mendalam.Dalam sepi, tanpa temen dan keluarga.Disaat tidur itulah paijo merasa semua masalah seakan hilang seketika,walau itu hanya sementara. Tepat jam 02.30 seperti biasanya tiap hari,paijo terbangun.Paijo segera beranjak menuju kamar mandi untuk membasahi tubuhnya dengan air wudhu.Paijo ingin curhat kepada Allah.Kepada sang pencipta.Sajadah lusuh segera dibentangkan dalam kamar rumah kontrakannya yang kecil. Dengan bersimpuh dihadapan Sang Pencipta, Paijo menumpahkan uneg-unegnya tanpa tedeng aling-aling kepada Allah. Paijo menengadahkan tangannya seraya berbisik :
Ya Allah sang penggenggam alam semesta, Engkaulah pemilik alam semesta ini.Engkaulah maha dari segala maha yang ada di dunia. Malam ini, hambaMU ini bersujud dihadapanMU, bersimpuh untuk bermohon kepadaMU. Kepada siapa lagi aku bermohon selain kepadaMU. Ya Allah, aku tahu apa yang terjadi kepadaku ini merupakan wujud dari kasih sayangMU.Tapi aku mohon kepadaMU ya Allah, berikan aku kesabaran, berikan aku kekuatan untuk menerima ujian dariMU.Jangan Kau campakkan aku dari perhatiannMU ya Allah. Dan jangan Kau tinggalkan aku. Disaat orang-orang terdekatku meningggalkan aku, aku mohon kepadaMU, Engkau jangan turut meninggalkanku.Aku masih butuh Engkau ya Allah.Aku masih butuh Engkau. Ya Allah, andai apa yang terjadi padaku adalah bentuk dosa-dosaku dimasa lalu, aku ikhlas menjalaninya, aku ikhlas jika memang ini bentuk hukumanku.Aku iklhas ya Allah.Tapi pintaku jangan kau campakkan aku.” Tak terasa paijo berdoa sambil berlinang air mata, tak terasa air matanya bercucuran dan paijo melanjutkan.”Ya Allah, aku sudah mengecewakan orang tuaku, aku sudah mengecewakan mereka, meski dia tidak tahu apa-apa, biarlah aku tanggung semua ini ya Allah,meski aku sadar bahwa sebenarnya apa yang terjadi padaku ini akibat ketololanku,akibat keteledoranku.Namun nasi sudah menjadi bubur,aku yakin ini semua adalah takdirku yang harus aku jalani.Semua ini sudah merupakan kehendakMU. Ya Allah, biarlah orang mencibirku dengan apa yang terjadi padaku, biarlah orang menghujatku tanpa mereka tahu apa yang terjadi sesungguhnya, biarlah itu tetap terjadi, jika memang itu bisa memuaskan mereka. Aku tidak peduli pendapat orang tentang aku, yang aku pedulikan hanya kasih sayangMU padaku. Entah kepada siapa lagi aku berbagi selain kepadaMU ya Allah.Pintaku terakhir dimalam yang hening ini, jadikan aku orang yang bersyukur atas nikmat yang kau berikan.Jadikan aku bersyukur atas musibah yang terjadi, atas semua yang terjadi sama diriku.Jangan kau jadikan aku menjadi manusia pecundang. Aku mohon ya Allah aku mohon.Amin
Sambil menyeka air mata yang tak terasa menetes dipipinya, paijo melanjutkan aktivitasnya dikeheningan malam dengan bermeditasi, merenungkan perjalanan hidupnya. Meditasi biasa paijo lakukan tiap menjelang pagi, sehabis melakukan sholat malam. Dalam meditasi, paijo berusaha menselaraskan alam dan pikirannya untuk mencapai keadaan zero.Paijo ingin menghilangkan masalahnya sejenak.Paijo ingin menciptakan dan membangunkan alam sadarnya untuk fokus pada titik keberhasilan yang diinginkan. Selama 30 menit lamanya paijo bermeditasi, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Paijo harus siap-siap menjalankan rutinitas pekerjaannya di pagi harinya. Dengan agak malas, paijo mengambil secarik kertas, dan menuliskan rencananya di hari itu.Dengan menghela nafas panjang, paijo merasa hari ini detak jantungnya akan berpacu kencang, karena hari ini,paijo harus berhadapan dengan orang-orang dimana paijo mempunyai masalah dengan orang-orang tersebut.. Kira-kira ada 3 orang yang harus dihadapi paijo.”Aku harus tenang, dan aku harus hadapi!” demikian kata paijo menguatkan hatinya. Setelah menuliskan beberapa rencananya dan cara menghadapi orang-orang tersebut, paijo lalu merebahkan dirinya sejenak sambil melihat berita di televisi mengenai kejadian hari itu. Seperti biasa, berita di televisi, masih dihiasi dengan kasus korupsi yang tidak kunjung usai, dan masalah penderitaaan rakyat yang berkepanjangan. Hati paijo merasa miris melihat pnderitaan rakyat di televisi. Bagi paijo,amanah yang sudah diberikan rakyat oleh para penguasa tersebut, sudah disia-siakan. “Ah andai aku jadi orang kaya, dan jutawan, aku ingin memberdayakan mereka.Kasihan nasib kaum marjinal, mereka selalu merasa terpinggirkan”.”Tapi sayang,aku sekarangpun jadi orang marjinal,.mana mungkin aku bisa berbuat untuk mereka??” ah aku mimpi kali yaaaa”


Bumi Ngaliyan,Semarang

September 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar